Stimulasi Penting Untuk Anak Stunting

12-03-2026 8 Artikel Kesehatan

Data World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 menunjukkan prevalensi stunting balita di dunia mencapai 22,2% atau 149,2 juta .Prevalensi tersebut secara global berada pada kategori tinggi karena berada antara 20% - <30%. Meskipun Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 di 34 provinsi menunjukkan angka stunting nasional turun dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 24.4% di tahun 2021 tetapi data tersebut masih tergolong tinggi. Sementara itu, prevalensi stunting di kabupaten Tulungagung pada tahun 2024 mencapai 13,7% sedangkan kabupaten Trenggalek yang juga menjadi wilayah kerja RSU Muhammadiyah Bandung mencapai 15,8% menurut Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Angka ini terus berupaya ditekan oleh pemerintah Indonesia, di mana target ambisius penurunan prevalensi stunting nasional diharapkan mencapai 14,2% pada tahun 2029 dan 5% pada 2045.

WHO mendefinisikan stunting sebagai tinggi badan anak di bawah -2 standar deviasi (SD) dari tinggi badan rata-rata yang seharusnya pada usia tersebut berdasarkan kurva pertumbuhan WHO akibat kekurangan gizi kronik. Beberapa dampak dari kondisi stunting sendiri di antaranya adalah hambatan dalam mencapai potensi fisik dan kognitif anak. Salah satu yang menjadi titik fokus utama dari kondisi stunting adalah adanya pengaruh terhadap perkembangan otak jangka panjang yang selanjutnya berdampak pada kemampuan kognitif Intelligence Quotion (IQ) dan prestasi sekolah.

Stimulasi merupakan salah satu kebutuhan mendasar yang sangat diperlukan untuk perkembangan anak, tak terkecuali bagi anak dengan kondisi stunting. Pemberian intervensi gizi saja tidak cukup untuk memaksimalkan tumbuh kembangnya. Salah satu hal yang seringkali kurang begitu diperhatikan justru perihal stimulasi rutin untuk memaksimalkan kompetensi kognitif anak. Stimulasi ini tidak hanya bisa dilakukan rutin oleh orangtua di rumah tetapi juga dapat diberikan saat anak menjalani masa perawatan di rumah sakit. Pada prinsipnya pemberian stimulasi ini harus bersifat konsisten dan terprogram sesuai usia supaya memberikan hasil yang maksimal.

Sebagai contoh, pemberian stimulasi pada anak usia 4-5 tahun dapat diberikan dalam berbagai bentuk, stimulasi motorik kasar seperti bermain balap karung, lompat tali, bermain music sambil menari maupun permainan outdoor. Stimulasi motorik halus dapat berupa menggambar, memotong, menempel gambar, mewarnai, ataupun menyusun puzzle. Stimulasi ini dapat dilakukan oleh para orangtua dengan cara yang menyenangkan dan interaktif salah satunya dengan menyediakan “Activity Book” yang harapanya dapat melatih koordinasi mata-tangan, kekuatan jari-jari tangan dan kemampuan motorik halus lainnya yang penting untuk perkembangan anak(Zakiyya & Kurniatin, 2024). Pemilihan “Activity Book” yang dapat mendukung perkembangan anak-anak stunting dapat mencakup berbagai aktivitas penting di dalamnnya, seperti : mencocokkan gambar, menyortir warna, menempel, mengikuti dan menebali garis. Stimulasi bahasa dapat berupa belajar angka, huruf, menulis hingga mendengarkan cerita. Sedangkan dalam hal personal sosial anak dapat dilatih untuk bermain peran, mengajak anak untuk terlibat kegiatan sehari-hari di rumah, mengajarkan anak untuk percaya diri dengan memberikan contoh sederhana yang dapat dengan mudah dipahami dan diikuti oleh anak-anak (Utami et al., 2024). Ide stimulasi lain yang dapat diberikan sesuai tahapan umur perkembangan anak dapat dilihat pada tabel di akhir artikel.

Sebuah penelitian menarik di Mataram Indonesia pada populasi anak TK dengan stunting menunjukkan bahwa anak-anak dengan kondisi stunting ternyata lebih lambat merespon pada tugas visual dan auditori, tetapi lebih adaptif pada stimulasi taktil dan kinestetik (Zaenab, 2025). Mereka cenderug lebih cepat lelah dan bosan ketika melakukan aktivitas seperti menggambar dan mewarnai dibanding dengan aktivitas yang membutuhkan pergerakan tubuh dan bermain peran. Penelitian ini juga menyebutkan bahwasanya anak anak dengan kondisi stunting lebih cepat memahami instruksi apabila diberikan contoh langsung tidak hanya berupa perintah verbal saja. Sebagai contoh mengajak anak-anak menyusun balok/puzzle bersama-sama. 

Pada dasarnya pemilihan stimulasi harus disesuaikan dengan tahapan umur anak. Stimulasi pada anak dengan kondisi stunting perlu diberikan lebih terfokus dan lebih intensif dibanding dengan anak normal lainnya sembari tetap memperhatikan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat. Kreativitas dan ketelatenan orangtua tentunya diperlukan untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal terhadap anak stunting. Orangtua dapat menekankan pemberian aktivitas kinestetik dan stimulasi taktil serta kombinasi perintah verbal dan contoh praktis langsung terhadap anak-anak untuk mengoptimalkan kemampuan kognitifnya. Perlu diperhatikan juga untuk selalu mengawasi serta memastikan keamanan alat, bahan ataupun mainan yang digunakan untuk anak.


Berikut beberapa ide stimulasi yang dapat diberikan untuk anak yang mengalami stunting di usia 9 bulan ke atas :

Usia

Ide Stimulasi

9-11 bulan

·       Melatih bayi mengambil mainan, memasukkan dan mengeluarkan dari dalam wadah

12-17 bulan

·       Mengajak anak bermain menyusun puzzle dan merangkai manik-manik besar.

·       Melatih anak menangkap, melempar dan menendang bola sembari orangtua mengatakan “kata kerja” yang digunakanya

·       Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah tangga

·       Melatih anak makan sendiri bersama anggota keluarga lainnya

18-23 bulan

·       Membuat lubang-lubang dengan ukuran dan bentuk yang berbeda pada sebuah tutup kotak atau kardus. Beri anak mainan atau benda-benda yang bisa dimasukkan lewat lubang-lubang itu.

·       Melatih anak bercerita tentang apa yang dilihatnya

·       Melatih anak mengerjakan perintah sederhana

·       Mengajak anak bermain petak umpet dengan teman sebaya

·       Memberikan pujian lebih sering daripada menghukum perilaku yang buruk

24-35 bulan

·       Mengajak anak bermain ‘ular naga’, merangkak di kolong meja, berjinjit mengelilingi kursi, melompat di atas bantal dan lain-lain

·       Melatih anak mencocokkan gambar dan benda

Memmperkenalkan konsep jumlah

·       Melatih anak berpakaian

·       Membacakan buku cerita dengan gambar dan tulisan yang besar. Ketika selesai, ajukan pertanyaan 5W+1H (Who (siapa tokohnya); What (apa yang terjadi); When (kapan terjadinya); Where (di mana terjadinya); Why (mengapa bisa terjadi); How (bagaimana bisa terjadi).


36-47 bulan

·       Melatih anak menggunting, menggambar dan menulis

·       Mengajak anak menempel potongan gambar

·       Mengajarkan konsep berhitung

·       Mengajak anak membuat album foto. Tempelkan foto anak di buku anak. Minta anak menceritakan apa yang terjadi di dalam fotonya itu. Tulis di bawah foto tersebut apa yang di ceritakan anak.

·       Membicarakan emosi anak, misalnya katakan “Ibu tahu kamu sedang merasa kesal karena kamu melempar kepingan puzzle”. Anda juga dapat mendorong anak untuk mengidentifikasi perasaan tokoh di dalam buku cerita

48-59 bulan

·       Mengajak anak bermain lomba balap karung, bermain engklek, lompat tali, mendengarkan musik sembari menari, dan bermain puzzle

·       Mengenalkan konsep besar-kecil, panjang-pendek, banyak-sedikit, berat-ringan

·       Melatih anak melengkapi kalimat

·       Mengajak anak berbicara tentang apa yang dirasakannya

·       Membentuk kemandirian anak

·       Mengajak anak bermain peran

60-72 bulan

·       Mengajak anak pergi berjalan-jalan ke sekitar rumah. Lakukan permainan berburu, bermain halang rintang di sekitar rumah atau taman

·       Ketika membacakan cerita, minta anak untuk memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya di cerita tersebut. Beri anak buku cerita bergambar dan dorong anak untuk menceritakan apa yang dilihat

·       Melatih anak mengenal konsep waktu, hari, minggu, bulan

·       Melatih anak mematuhi peraturan keluarga

Ditulis oleh : dr. Lelyana S.A.

Ditinjau oleh : dr. Endah Setyarini, Sp.A, M.Biomed.


Sumber:

Buku Panduan Praktik Klinis Stunting IDAI 2023

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/1928/2022 Tentang

            Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stunting

Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat

            Pelayanan Kesehatan Dasar. (2022). Kementerian Kesehatan RI. 47-75.

Utami, W., Rashid, N. A., Afandi, A. A., Patonah, S., & Mulyani, S. (2024). Child Development Levels of Stunting Children Under Five Years: A Case Study in Indonesia. International Journal of Nursing Information, 3(1), 50–58. https://doi.org/10.58418/ijni.v3i1.63

Zaenab, S. (n.d.). Enhancing Cognitive Development of Stunted Children through Sensory Modalities: Evidence from Mataram, Indonesia.

Zakiyya, A., & Kurniatin, L. F. (2024). Utilization of Fine Motor Stimulation Media “Activity Book” for Stunting Toddlers. Journal of Health Sciences and Epidemiology, 2(1), 22–28. https://doi.org/10.62404/jhse.v2i1.38